Minggu, 03 Juni 2012

tiga performans , satu kejutan


Minggu, 3 Juni 2012
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki
20:00 - 22:20

Malam ini aku relakan Rp100.000 untuk tiga karya tari, yang harusnya bisa setengah harga kalau pesan jauh-jauh hari atas nama siswa Gigi Art of Dance tapi ya sudahlah. Ruang pertunjukkan penuh, petugas tiket menyambutku dengan pesimis. "Udah tinggal kursi-kursi ngga enak mbak. Yang tengah udah full." "Ya rekomendasi aja deh mbak," jawabku, "Pilihin dong kira-kira yang enak dimana." Lumayan juga, memberi kepercayaan pada petugas tiket, dia memilihkan alternatif tempat duduk terbaik dari yang tersisa. Aku lalu kembali ke front desk untuk minta buklet sinopsis eh mereka nggak punya, tapi mereka memberiku buku berisi kumpulan main performances IDF 2012 beserta tetek bengek kata sambutan, daftar kru, alhamdulillah! Padahal mereka bilang "Ini sebetulnya untuk pers lho, terbatas." "O ya? Aduh makasih yaa!"

Malam itu pakaianku kayak tabrak lari, kaus biru celana hijau tas merah. Yah, soalnya mau nonton iBody nya Miss Andara. Entah kenapa orang itu meninggalkan kesan warna-warna neon di benakku. 

Panggung dinyalakan oleh performance Hafiz Dhaou dari Tunisia. Sinopsisnya ngeri, tentang mistifikasi kopi. Tapi postingan kali ini adalah tentang pengalamanku menonton My Space (Ruangku) karya Nur Hasanah 


Oke, saya berusaha tidak puitis di sini. Jujur dan langsung saja, karya Hasan ini berhasil menyentuh. Ditarikan solo oleh sang koreografer sendiri, karya ini membuat sinopsisnya berhasil. Ya, maksudnya sinopsis berfungsi benar jadi pengantar penonton untuk menghayati karya, dan penghayatan itu harusnya melebihi yang penghantarnya.

Sinopsis yang tertulis di buku IDF untu My Space:

Ketika seseorang pernah kehilangan asa, ruang pun menjadi sepi. 
Berusaha mencoba menerima kekecewaan, dan membawa diri untuk tetap bergerak di ruang
yang baru.

Tentu antisipasi penonton (baca: saya), Hasan akan tampil melankolis, dengan alur yang menggambarkan keputus-asaan, disusul dengan ekspresi optimisme. Tapi puji syukur ke hadirat kekuatan karakter, bagi saya Hasan berbicara lebih dari itu di panggung. 

Dengan kesederhanaan bohlam gantung dan sofa tua, properti sofa ia gunakan maksimal, seperti kostum, bagi saya. Dimulai dengan sofa yang membelakangi penonton, dia berbaring di situ, invisible.  Gerakan pembuka yang saya nggak bisa lupa: jemari. Gerakan kecil yang mampu mengkomunikasikan sesuatu. Akan terlalu bertele-tele kalau saya sebutkan satu persatu gerakan dia yang nempel di memori. Intinya, menurut saya Nur Hasanah berbicara tentang comfort zone. Sofa itu ia putar balik berbagai posisi. Betapa ia mencintai sofa itu dan berlindung di baliknya. Hasan merangkak di bawah sofa seolah penonton adalah serdadu-serdadu musuh. Namun akibatnya, ia tertimpa sofa. Comfort zone itu jadi benalu untuknya sendiri. Terjadilah adegan yang cukup ngeri dimana Hasan dengan tubuh telentang berusaha keluar dari sofa yang terbalik. Dijembatani dengan fall to rise yang mengalir, ia pun bangkit. Kemudian, dengan ekspresi "I can't watch this" , ia memutar balik sofa hingga berdiri 90 derajat di atas tanah. Maka sofa itu tak lagi bisa ditiduri; tapi hanya dengan memanfaatkan sisi kiri sofa (ruang sempit. Ia bisa saja moving kanan kiri depan belakang) , Hasan berhasil loh... menunjukkan attachment pada sofa itu, seolah berat hati meninggalkan comfort zone. Saat ia menari tanpa sofa, tak ada gerakan akrobatik heboh spektakuler, tapi terasa sungguh personal. Banyak gerakan menoleh yang kuat, menghentak. Just like normal people, we always look back to good memories, to the past. 

Penutup performance Hasan cukup akrobatik dan mengejutkan. Dia lompat ke atas sofa yang berdiri terbalik itu. Dia duduk dengan nyaman di atas comfort zone nya dan tersenyum. Saya nggak bisa berpura-pura, karakter Xena, The Warrior Princess tampil dalam sosok mungil Nur Hasanah pada adegan akhir ini. Bahwa.... pada akhirnya, orang yang menang bukanlah yang berlindung di dalam zona nyamannya, bukan pula yang insecure tanpa comfort zone; tetapi dia yang berhasil mengontrol emosi,cinta,nafsu... zona nyamannya!

Sabtu, 25 Februari 2012

Beat. Danang Pamungkas

Pukul setengah sebelas malam aku sampai di rumah, baru dari Salihara nonton karya tari Danang Pamungkas, judulnya Beat. Danang adalah salah satu seniman penerima Hibah Seni dari Yayasan Kelola, jadi mungkin karya yang dipertunjukkannya tadi adalah bentuk tanggung jawab karya untuk hibah dari Kelola.
Sebuah potongan kalimat di lembar sinopsis untuk Beat seperti ini: "dan sesekali, karya ini juga mencoba “melepaskan diri” dari musik dan membuatnya mengalir lewat tubuh sang penari.". Itu adalah kalimat terakhir, namun justru kata kunci "melepaskan diri" itu yang membuatku datang jauh-jauh ke Salihara walaupun sebenarnya masih harus istirahat.
Sebagai awam di dunia tari, demikian yang terbesit di otakku: Jika maksud Danang adalah untuk membuktikan dan memberi penekanan bahwa tubuh memiliki ritme, rhytm, atau mungkin bahkan rhyme, ia sudah berhasil dari menit-menit awal resital. Musik pengantar tidur terdengar kontras dengan gerak tubuh penari yang cepat namun matang, dengan tempo yang presisi. Namun pertunjukkan terus berjalan, seperti tak ada habisnya.
Di ruang gelap teater Salihara, di mana pandanganku hanya mengarah pada panggung yang membumi, nafasku tersengal-sengal. Karena pilek. Hmm, maksudku, ada scene yang membuat nafasku tersengal, Breathtaking bahasa kerennya; yaitu saat Danang menari begitu fluid, cair, mengalir, sadar, dan tidak berhenti! Sementara itu, seorang penari lainnya berjalan begitu lambat, cair, sadar. Saat adegan itu nyaji di panggung, terjadi peristiwa dimensi waktu di benakku. Seperti yang pernah ada di percakapan aku dan Nikma setelah kami membaca terjemahan pemikiran Descartes, seperti yang pernah ada di kelas Estetika Mas Matius Ali, maaf aku lupa dasar pemikiran siapa yang sedang beliau bahas waktu itu, tapi tentang konsep waktu. Bahwa sedikitnya ada dua realita waktu. Yang berdetak, yang dijadikan kesepakatan bersama. Satu lagi, yang ada di alam kesadaran kita sendiri-sendiri.

Selasa, 15 November 2011

bicara

Mungkin keinginanku yang tersembunyi adalah: berhenti berbicara. Melihat orang lalu lalang, dan mereka pun tak bisa bicara. Ada yang akan mengumpulkan kertas dan pena sebanyak-banyaknya untuk berkomunikasi,

Namun akan ada orang-orang seperti aku,
yang menyerah pada bahasa.

Akan kubangunkan yang tertidur di jemari, punggung, bahu, dagu, dan seluruh peri di sendi-sendi.
Kau tahu? Aku akan menari sepanjang hari.
Beberapa orang akan menjadi saudara, dan aku jadi bisa bicara dengan pohon dan air, angin dan debu.

Selasa, 25 Oktober 2011

malam ini aku lewat pasar malam. 
di samping rel kereta ada carrousel berdempet dengan lapak sayur dan celana dalam.
anak perempuan tertidur di kuda-kudaan.
berjalan menyusuri kesumpekan, sepasang kekasih bergandeng tangan. mesra wajahnya.

kemarin aku kecelakaan. ayah dan aku jatuh menabrak mobil yang berhenti mendadak.
kaki kami sakit tapi aku tersenyum damai,
karena seorang bapak tua mengayuh sepeda sambil bersiul merdu,
seperti gairah anak muda.

Senin, 17 Oktober 2011

potret

Saya pernah berangan, sekali. 
Sekali, dengan dalam. Bahwa suatu saat saya akan menari di sebuah pertunjukkan. Tari kontemporer. Pertunjukkan perasaan, puisi gerak. Saya pernah berangan sedemikian rupa, sekali. Selanjutnya yang saya lakukan hanyalah membayangkan. 
Tapi tahun ini angan itu putar badan pasang wajah nakal pada saya, "Kalo gue datang beneran, lo berani?" dan saya mengangguk malu-malu.


Itu saya di kiri depan, menari bersama orang-orang yang berani menghadapi mimpi.

Sabtu, 08 Oktober 2011

memar

Jika kamu diberi hidup sekali lagi, dengan kesadaran bahwa ini adalah kesempatan kedua, akankah kamu menitip hati pada orang-orang yang sama?

Memar biru ini tampaknya, dimulai malam kamis, di mana saya punya janji ketemu dengan kawan yang datang dari jauh, tapi saya sedang flu. Saya tetap mau pergi ketemu dia, tapi dia malah pergi ke acara lain, dan saya diundang untuk bergabung - saja. Saya memilih pulang dan tidur. Lalu jumat malam, kami bertemu. Saya minum bir karena tidak ada kopi dalam daftar menu. Dua jam bersama wanita dari benua yang dingin, dia cerita bagaimana dia bertekuk lutut tak berdaya pada seorang pria ini, di mana kawan saya ini, ceritanya, adalah selingkuhannya. Saya muak dengar ceritanya. Saya juga tidak ingin minum bir malam itu, sebenarnya. Kecewa. Saya berharap banyak pada wanita Jerman. Saya kira, dari negara yang lebih maju secara pendidikan dan pengembangan karakter bangsa, saya akan ketemu dengan wanita yang tinggi harga.

Saya kecewa, bukan karena dia selingkuhan,
Tapi karena dia mengubur diri dalam lumpur stereotip:
I feel weak, I need him beside me.
Go fuck your self.